paulasbabble

Just another WordPress.com site

exo performance

exo performance

@ KBS london olympic welcome back

guilty pleasure…

tidak ada yang salah dalam cinta, yang ada hanya mencintai orang yang salah…

seperti judul dalam tulisan ini, guilty pleasure kau tidak bisa mengartikan kata per kata, karena itu akan berarti bersalah kesenangan. tetapi yang dimaksud dengan kata itu bukanlah demikian melainkan ketika kita menyukai kesalahan yang kita buat, atau suatu kesalahan yang kita senangi.

beberapa waktu lalu aku menuliskan perasaanku tentang Shone. dan sampai aku menuliskan ini perasaanku kepadanya belum berubah, sebaliknya malah semakin kuat. Rumput yang tumbuh semakin liar hingga aku lelah untuk mencabutnya. Perasaanku pun lelah bertarung dengan pikiranku bahwa ini bukanlah hal yang benar. Pada kenyataannya aku memang tidak bisa menghindarinya. Aku tahu aku tidak seharusnya mencintai dia namun ia terlalu tampan untuk diabaikan, atau mungkin kami terlalu dekat untuk saling melupakan.

aku tidak ingat sudah berapa kali aku jatuh cinta pada seorang pria. namun kali ini rasanya sungguh lain karena ia sahabatku, rasanya sungguh lain karena aku harus berusaha keras untuk menampik kata hatiku sendiri. dan hal teraneh yang kurasakan adalah…

aku sangat mengenal aroma parfumnya, dia bukan satu-satunya orang yang ku kenal aroma parfumnya. tetapi baru kali ini aku merasa dapat mencium aroma parfumnya dimana-mana, bahkan ketika ia sedang tidak berada di dekatku. Bukan, bukan karena orang lain memiliki aroma parfum yg sama seperti milikinya. Namun secara mendadak aroma itu muncul dari pikiranku, seolah aku dapat menghirupnya, aroma itu muncul beberapa saat. tetapi ketika aku mengingat kembali harumnya. aku tidak dapat menciumnya lagi. itu hanya muncul secara tak terduga namun tampak begitu nyata setidaknya untukku..

okay, i know you are thinking that i’m insane, or freak or day dreamer.. but i’m not lie.

aku pun menyadari bahwa hal tersebut adalah hal teraneh yang kualami ketika memendam rasa pada seseorang. dan aku benar-benar ingin tahu apa artinya ini…

continue

seperti yang sudah kukatakan, aku kembali, untuk melanjutkan ceritaku.

Dan seperti yang sebelumnya telah kukatakan, bahwa jika kita terlalu sering bersama-sama dengan seseorang, yang walaupun telah kita anggap teman sendiri, perasaan yang ada tak akan selamanya sama (aku salah berbicara pd tulisan sebelumnya, dan sekarang kuralat) aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku hingga menjadi seperti ini. dia, adalah satu-satunya pria diantara keenam sahabatku. mungkin ini memang kesalahanku karena dari awal sudah mengistimewakannya, kalian tentu masih ingat tulisan dimana telah kuceritakan bahwa ada dua diantara enam sahabatku yg paling kuistimewakan. untuk lebih mudah, ku sebut saja pria ini bernama Shone.

ini merupakan perasaan paling gila yang pernah kurasakan, aku mempunyai banyak sahabat pria sebelum mengenalnya, dan tak ada satupunn dari mereka yang membuatku jatuh cinta. namun yang paling menyakitkan dari semua ini adalah… walaupun aku yakin bahwa aku benar-benar menyukainya, aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk hal ini, tak ada hal yang membuatku harus mempertahankan perasaanku. Pertama, aku dan shone berbeda keyakinan, kedua, dia adalah sahabatku. all i know about loving him is a sin. namun seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa perasaan ini seperti rumput liar, semakin dicabut, ia akan tumbuh lebih panjang dan lebih lebat dari sebelumnya.

aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini berasal dan bagaimana bisa ini menghinggapiku, mungkin terlalu besar kepala jika aku mengatakan ini, tapi entah mengapa ada sedikit keyakinan dalam diriku bahwa perasaan ini muncul karena kurasa shone juga menyukaiku. ah… aku tidak tahu lagi bagaiman harus melanjutkan. kurasa cukup ini yang kuceritakan untuk saat ini.

Miss

karena cinta ada memang untuk diungkapkan, kecuali bagi mereka yang terlalu mencintai diri sendiri (Donny Dhirgantoro: 5cm)

entah sudah berapa lama kutinggalkan blog ini, hingga sekarang aku tidak tahu darimana harus memulai, padahal ada banyak hal yang telah kulewati dan ingin kubagi dengan kalian, terutama pengalaman ku ketika mengikuti kuliah kerja lapangan (KKL) tapi meskipun banyak hal menarik kurasa itu sudah tidak penting lagi sekarang.

sebenarnya aku malu, karena walau aku sudah lama tidak menulis, sampai saat ini tak ada kemajuan apapun maupun hal baru dalam hidupku. haha, itu jadi membuatku berpikir, apa saja sebenarnya yang kukerjakan selama ini, dan apa yang telah kuberikan untuk hidupku? keadaanku dengan teman-temanku masih sama, begitu juga dengan Parang Jati. Oh ya, mengenai dia, ada hal kecil yang ingin kubagi dengan kalian saat ini.

kemarin malam aku baru saja menonton film, sebuah film dari Thailand yang berjudul “A Little Thing Called Love”

mungkin salah satu dari kalian juga ada yang pernah menontonnya. Alur cerita dalam film itu memang sederhana, tentang gadis culun yang menginginkan pria yang tampan. tapi yang membuatku menyukai film ini sudah barang tentu karena aku merasa memiliki nasib yang sama dengan gadis itu, walaupun entah yang terjadi nanti akan sama juga atau tidak seperti pada akhir cerita dalam film itu.

selain itu, pesan yang dapat kuperoleh adalah bahwa jika kita mencintai seseorang, seharusnya kita tidak boleh ragu untuk mengungkapkan, kita ini memang perempuan, yang dalam hukum rimbanya tidak boleh lebih agresif dari laki-laki. tetapi yang sekarang baru kusadari adalah hal yang tidak boleh dilakukan perempuan itu dalah mengejar lelaki, yang tidak boleh dilakukan perempuan itu adalah meminta duluan untuk menjadi pacarnya, dan yang paling tidak boleh dilakukan adalah memaksa pria tersebut untuk menjadi pacarnya. Namun tentu saja hal tersebut berbeda dengan mengungkapkan perasaan. karena apa salahnya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita cintai selama kita tidak mengharapkan apa-apa darinya. hanya mereka berhak tahu apa yang kita rasakan, meskipun hak mereka untuk menentukan kita yang mencintai masih boleh berharap padanya atau tidak. karena cinta ada memang untuk diungkapkan, kecuali bagi mereka yang terlalu mencintai diri sendiri (Donny Dhirgantoro: 5cm)

mengenai semua itu, aku jadi berpikir tentang Parang Jati, tapi haruskah aku mengungkapkan yang sebenarnya. (tarik napas dalam-dalam) let me confess one thing to you…
sejujurnya akhir-akhir ini aku meragukan perasaanku pada Parang Jati. entah karena memang sudah berkurang, atau karena aku belum mengerti cinta hingga aku tidak dapat memastikan apa sebenarnya yang kurasakan terhadapnya. yang aku tahu, ada hal yang menggangguku akhir-akhir ini. yang aku bahkan tidak sanggup untuk mengatakannya. benar-benar di luar dugaan.

mungkin sebagian dari kalian mengerti.. bahwa jika kita terlalu sering bersama-sama dengan seseorang, yang walaupun sudah kita anggap sebagai teman sendiri, perasaan yang dirasakan tak akan pernah sama, karena perlahan-lahan rasa yang lain itu hadir, rasa yang bermula dari sayang sebagai teman lama kelamaan menjadi lebih, dan terus bertambah hingga tak terhingga, tak dapat terkendali, seperti rumput liar yang semakin dicabut, semakin liar juga tumbuhnya..

i gotta go, i’ll be back at midnight, its urgent.

unforgetable Ricky…

hampir satu minggu yang lalu,tepatnya 25 April 2011, aku merasa bersalah karena baru bercerita sekarang. Sebelum kuceritakan hal yang ingin kusampaikan, aku ingin memperkenalkan dulu orang yang ingin kuceritakan disini.

Teman sekelasku, Ricky namanya, aku tahu ada ribuan orang yang bernama Ricky. Dia punya nama khusus yang membedakan dirinya dengan Ricky-Ricky yang lain, namun aku tidak bisa memberitahukan nama lengkapnya untuk menghindari suatu saat teman-temanku menemukan blog-ku😀 . Ricky, tak banyak yang bisa kuceritakan tentangnya karena dulu kami tidak terlalu dekat. Tapi bukan berarti tak ada yang bisa ku kenang darinya. Aku ingat dia adalah pria yang sangat sopan. Aku menyukai pria yang perlakuannya antara teman laki-laki dan teman perempuannya itu tidak sama. Laki-laki boleh berbicara sebebas apapun dengan sesama laki-laki, tapi harus punya batasan dalam berbicara dengan perempuan, dan Ricky masuk dalam kategori itu. Ricky, walaupun aku tidak jatuh cinta padanya tetapi aku menyukai sikapnya yang selalu berhati-hati dalam berbicara pada perempuan. Aku menyukai sikapnya yang selalu santai walau apapun kesulitan yang dihadapi dan aku menyukai sikap humorisnya yang tak terduga.

Senin 25 April 2011, menjadi hari bersejarah yang menyakitkan dan tidak akan aku lupakan. Siang itu kami baru saja selesai mengikuti mata kuliah yang dimulai pukul 10 pagi. Seperti biasa selesai kuliah aku dan teman-temanku pergi ke kantin untuk makan siang. Tiba-tiba salah satu temanku mengirim pesan bahwa mereka sedang dalam perjalanan dan meminta kami untuk mendoakan Ricky agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kami semua tertegun sebelum lantas bertanya. Temanku bilang ia kecelakaan. Usai makan kami melintasi halaman di depan gedung kampus jurusan kami, disana teman-teman sekelasku yang perempuan sedang berkumpul, kami heran mereka semua seperti berkabung, kutepis prasangka burukku walau perasaanku tidak enak. Dan yang terjadi pun benar adanya. Mengapa di dunia ini prasangka negative yang selalu lebih nyata ? Ricky tidak bisa diselamatkan akibat kecelakaan yang dialaminya. Ia menambrak mobil saat mengendarai motor, aku minta maaf karena aku tidak bisa menceritakan kronologisnya. Karena menurutku hal tersebut terlalu menyakitkan sehingga bahkan orang lain tidak pantas mendengarnya dan aku terlalu sakit untuk berbagi.

Tentu saja bukan hanya aku satu-satunya yang terluka dan berduka. Aku yakin semua teman seangkatanku merasakan itu terutama sahabat-sahabat terdekatnya. Tapi yang paling sakit menerima ini tentu saja keluarga mendiang. Lututku melemas saat pertama kali melihat jenazahnya yang masih berada di dalam ambulance sebelum dibawa pulang, dan aku tidak tega karena saat itu jasad Ricky masih disimpan di dalam kantong pembungkus mayat seakan ia jasad tak dikenal yang hendak di autopsi. Pada kenyataannya ia tidak di autopsi sama sekali. Pihak Rumah Sakit menyatakannya meninggal bahkan sebelum sempat merawatnya. Jujur aku tidak menyukai tindakan orang di Rumah Sakit karena mengambil kesimpulan terlalu cepat. Tapi aku bukan siapa-siapa dan tidak mengerti apa-apa untuk menentang mereka. Ketika kami sampai dirumahnya, orang-orang disekitar rumahnya sudah berkerumun dan memperiapkan tempat untuk jenazahnya. Aku sempat melihat ibunya berkali-kali pingsan. Hari itu jasadnya tidak langsung dimakamkan karena pihak keluarga masih menunggu ayahnya yang sedang berada diluar kota.

Lusa tanggal 27 April 2011, kami kembali ke rumahnya untuk melayat, aku melihat jasadnya untuk yang kedua kali. Tapi bukan jasadnya yang masih menggunakan sweater putih bergaris, kaus abu-abu yang sudah digunting (mungkin pihak rumah sakit sempat menggunting bajunya untuk memeriksa lukanya), celana panjang hitam dan luka kecil di dagu yang masih mengalirkan darah segar. Yang kulihat untuk kedua kalinya adalah Ricky yang telah di baringkan di peti kayu jati berukir indah dan mengkilat, dengan luka didagu yang telah dijahit rapih serta setelan jas hitam dengan kemeja putih dan rambut yang telah disisir rapih. Andaikan jasad itu hidup, Ricky pastilah sangat tampan. Sayangnya jasad itu hanya terbujur kaku dengan wajah yang tenang, serta bungan yang diletakkan diatas kedua tangannya yang terlipat dan secarik kertas bertuliskan “Selamat Jalan Ricky Sayang” disamping kanannya ayahnya mengelus wajahnya pelan diiringi sedu sedannya. Aku tidak bisa untuk tidak menangis bahkan sampai aku menuliskan ini. Kubiarkan air mataku berderai hingga aku sesenggukan. Kusaksikan teman-teman dekatnya yang menangis pilu melihat jasadnya. Atas nama perwakilan seluruh teman sekelas dan angkatan. Salah satu temanku membacakan puisi yang sangat mengharukan untuknya.

Kami mengiringinya menuju pemakaman, kulemparkan segenggam tanah dan bunga diatas petinya sebelum dikebumikan. Dan kutaburkan bunga diatas gundukan tanah makamnya begitu juga teman-temanku yang lain. Tak ada satupun dari kami yang dapat berhenti menangis saat menyaksikan peti itu perlahan-lahan mulai ditutupi oleh tanah yang agak basah akibat hujan hingga nisan kayu berbentuk salib ditancapkan diatasnya.

Ricky, andai waktu dapat terulang aku ingin mengenang lebih banyak tentangmu. Hingga banyak yang dapat kuceritakan disini atau mungkin kepada para junior yang kuharap dapat mendengar cerita bahwa pernah ada mahasiswa luar biasa yang bernama Ricky. Setelah kepergianmu aku bahkan baru mengetahui bahwa kau sebenarnya pandai dalam berbahasa inggris dan komputer. Aku bahkan baru mengetahui dibalik sikapmu yang tenang dan terlihat dewasa bahwa kau sebenarnya sangat manja dengan ibumu.

Selamat Jalan Ricky, doa kami selalu menyertaimu…

Desparate

Masih perihal yang kemarin. Namun mungkin ungkapan kali ini sedikit kontras. Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Mengapa kemarin aku yang begitu percaya diri bahkan sombong, sekarang menjadi sebaliknya.

Aku masih mengakui kelebihan ku, tetapi tiba-tiba itu semua nilainya nol. Aku menjadi tidak yakin dan seluruh kepercayadirianku luluh lantak. Aku menjadi tidak yakin bahwa semua itu berarti. Aku bahkan menjadi sama sekali tidak yakin bahwa aku cantik. Sama sekali tidak cantik. Sungguh kontras, aku bisa meyakini orang lain bahwa setiap orang itu cantik, dan setiap orang itu punya keistimewaan. Aku menenangkan hati mereka. Tapi mengapa kata-kata tersebut tidak bisa menenangkan ku ? Apa ini disebabkan karena aku berharap kata itu datang dari mulut orang lain, sehingga aku dapat merasakan bagaimana rasanya ditenangkan oleh orang lain yang tidak ingin melihat ku bermuram durja karena mereka memperhatikan ku, karena mereka ingin menghibur ku.

Haha, sangat mengenaskan, melihat yang lain dengan mudahnya mendapat perhatian dari lawan jenis, sedangkan aku, dari teman pun tidak, terkadang aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya disanjung oleh lawan jenis dengan tulus, aku ingin merasakan bagaimana disukai oleh banyak orang, dan semua orang ingin tahu tentangku.

Mungkin sebagian dari kalian menganggap ku payah, kekanakan dan lain sebagainya, tapi percayalah aku tidak menyangkal bahwa pendapat kalian itu benar. Aku tidak tahu mengapa hal seperti ini dapat begitu mempengaruhi ku.

the other side of me

Ada hal-hal yang sebaiknya tetap tersimpan di dalam. Tepatnya diantara jantung dan hati.

Kadang-kadang kita memang mesti berpura-pura demi mengamankan suasana. Kadang-kadang kita juga mesti berpura-pura agar tidak menimbulkan masalah. Tetapi kadang-kadang juga, ada kalanya manusia muak dengan kepura-puraan.

 

Seperti halnya aku yang muak dengan berpura-pura rendah diri. Aku muak terus merendah dan menganggap diriku tidak lebih baik dari yang lain di hadapan orang. Padahal jauh di dalam hati dan alam bawah sadar ku, aku tahu aku lebih istimewa. Mungkin bagimu pernyataanku terlalu congkak. Dan aku pun sadar akan hal itu. Tapi ada kalanya aku juga ingin bersikap tinggi hati, aku juga ingin berbangga diri, manusia juga terkadang mempunyai rasa ingin diakui eksistensi nya.  Namun daripada hal ini ku ungkapkan kepada teman-temanku. Lebih baik aku terbuka di sini.

 

Kau tentu masih ingat tentang pria yang ku sebut sebagai salah satu Parang Jati ku di sini (karena tulisan ku pun hanya sedikit). Kali ini aku ingin bercerita kembali tentangnya dan juga tentang sahabatku yang ku juluki sebagai penyihir Ursulla pada tulisan ku sebelumnya. Jujur aku sama sekali tidak menyukai keadaan ini, namun aku tidak bisa memungkiri bahwa pikiran itu terus mengganggu ku.  Belakangan aku semakin mempertanyakan mungkinkah pria itu, sebut saja dia Parang Jati, menyukai sahabatku? aku memang tidak tahu pasti.  Hanya menebak. Tetapi dari cara Parang Jati melihat dan memperlakukan sahabatku ketika mereka terlibat percakapan. Aku menjadi tidak nyaman. Dan aku benci hal ini. Aku benci jika seandainya Parang Jati lebih memilih sahabatku.

 

Padahal aku menyadari sepenuhnya bahwa aku cantik. Aku lebih cantik  dari sudut tekstur mana pun jika dibandingkan dengan dia. Dalam hal kemampuan aku lebih pandai berbahasa asing daripada dia. Dan aku lebih berbakat, aku bisa Tae Kwondo, bisa menggambar, dan aku lebih kreatif.  Selain itu aku bisa bernyanyi dan menari sedangkan dia tidak keduanya. Dan kalau boleh jujur (aku tahu ini sangat congkak) keluargaku lebih memiliki uang daripada dirinya. Lalu jika dilihat dari kepribadian, aku tidak melihat dia lebih dewasa dariku. Seharusnya aku yang lebih disukai olehnya hahaha… aku kejam, sangat kejam. Tetapi setiap orang memang mempunyai sisi baik dan buruk, begitu juga sisi gila dan waras.

 

Aku tidak akan mengubah pandanganku sebelum aku merasa semuanya masuk akal. Atau sebelum aku cukup dewasa untuk menyadarinya. Aku berharap hal itu datang secepatnya…